Seven beaches in a day (Jogja travel)

Pantai Ngrenehan

Pantai Ngrenehan

Desember lalu, saya menyempatkan jalan-jalan di jajaran pantai selatan jogja. Ada banyak pantai yang berjajar disepanjang pesisir laut selatan jogja. Saya sendiri mendapatkan info dari internet. Dari sekian banyak pantai tersebut, ada yang letaknya berdekatan dan ada beberapa sangat jauh.

Berangkat
Sabtu itu, saya nekat berangkat sendirian karena tidak ada teman dan sangat ingin sekali menjelajahi pantai-pantai tersebut. Sayapun tidak tahu sejauh apa perjalanan nanti. Saat itu pagi pukul 9 saya menuju ke selatan dari Sleman, Jogja. perjalanan dari kota ke pantai yang pertama sekitar 1 jam. Saya kira bisa lebih cepat karena saya tipe pengendara motor yang suka lambat asal selamat. Saya menuju ke selatan

Parangtritis
Pantai pertama tujuan saya adalah Parangtritis. Dari sekian banyak pantai, pantai inilah yang paling terkenal. Pantai Parangtritis menjadi tujuan wisata utama ketika pergi ke Jogja (terbukti dua kali liburan sekolah selalu mampir pantai ini). Saat saya kunjungi, pantai ini terlihat tidak begitu ramai seramai kunjungan saya sebelum-sebelumnya. Terlihat para kusir dan penunggang kuda yang menjajakan layanannya kepada wisatawan. Sebetulnya saya tertarik sekali mencoba naik kuda, tapi akan sangat tidak beguna sekali kalau tidak ada yang memotret saya (kan saya sendirian). Saya tidak begitu lama berada di pantai ini karena suasana sangat panas dan masih banyak pantai lagi yang akan saya kunjungi. Sesaat setelah saya istirahat, saya meninggalkan pantai ini dan menuju ke arah timur ke jajaran pantai selatan Jogja.

Wisatawan menunggang kuda di pantai Parangtritis

Wisatawan menunggang kuda di pantai Parangtritis

Ngobaran

Setelah sekian jam (juauhnya minta ampun) perjalanan, sampai juga ke pantai selanjutnya di timur Parangtritis, pantai Ngobaran. Dari arah parangtritis, terdapat percabangan jalan jika kekanan atau terus menuju pantai Ngobaran dan Ngrenehan sedangkan jika ke kanan menuju pantai-pantai yang lain. Pantai ini terlihat sangat sepi namun sudah terlihat ada berapa rumah penduduk disertai warung (pantai yang lain ada yang malah sepi tanpa rumah). Di pantai ini terdapat semacam tempat pemujaan entah apa namanya. Selain itu juga terdapat tempat pamoksan raja Brawijaya 5 dari Majapahit (semakin tidak jelas moksa di pantai ini apa di puncak Lawu sih).

Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran

Ngrenehan
Sebenarnya tujuan saya setelah Prangtritis adalah pantai Ngrenehan ini, tapi ternyata sebelum ke Ngrenehan, ada pantai Ngobaran tadi. Saya tahu dari penduduk yang saya ajak ngobrol di Ngobaran. Pantai Ngrenehan ini adalah pantai tempat berlabuh para nelayan. Selain pantai, saya juga menjumpai pasar jual beli ikan. Bentuknya seperti rumah joglo. Disekitar pasar terdapat warung yang juga menjual ikan baik mentah maupun goreng. Saya sempat ditawari ikan laut selebar tiga jari sekilo 10ribu. Sekilo bisa dapat 10-11 ikan sepanjang 20-25cm. Sepertinya harga tersebut sangat murah dimana harga di warung matang saja bisa 5000 per ekor matang. Siang itu banyak nelayan yang sibuk dengan jaring-jaring mereka setelah melaut.

Pasar ikan di pantai Ngrenehan

Pasar ikan di pantai Ngrenehan

Kukup
Setelah puas dari Ngrenehan, saya melanjutkan perjalanan. Dari Ngrenehan dan Ngobaran, saya harus kembali ke percabangan awal lalu berbabelok arah ke timur menuju pantai Kukup. Sebenarnya, sebelum sampai Kukup terdapat pantai Baron, tapi karena entah kenapa saya lebih suka memrioritaskan pantai yang lain. Kukuplah pilihan saya. Pantai Kukup tidak begitu jauh dari pantai Baron. Pantai ini adalah pantai terbagus dari 7 pantai yang saya kunjungi. Kukup sudah berbentuk pantai wisata denan tempat parkir, orang jualan yang ramai, wisatawan, tempat berteduh dan rumah kecil diatas karang dengan jembatan. Pasirnya sangat putih kekuningan jauh beda dengan pantai parangtritis yang hitam. Di pantai ini saya sesaat menikmati segarnya es degan yang saya beli dari penjual es bapak-bapak yang sakit gigi (pipinya ditempeli koyo). Agak rame saat itu suasana di pantai Kukup berhubung saat itu adalah malam minggu. Selain banyak yang jual makanan, berbagai macam ikan hias termasuk si Nemo juga dijual. Saya sempat menanyakan harganya tetapi penjualnya minta harga perborongan. Maksudnya pilih dulu ikan2nya lalu dihargai. Karena saat itu tidak beniat membeli ikan, saya tidak meneruskan pertanyaan saya tentang harga.

Rumah peristrirahatan diatas karang Pantai Kukup

Rumah peristrirahatan diatas karang Pantai Kukup

Sepanjang

Dari pantai Kukup saya melanjutkan perjalanan terus ke timur. Sampailah saya di pantai Sepanjang. Kondisi pantai ini adalah sangat sepi. Meski banyak gubuk-gubuk penjual makanan di tepi pantai, namun hanya dua gubuk saja yang terisi penjual. Letak pantai ini juga agak jauh dari jalan raya. Serta akses dari jalan raya ke pantai masih berupa jalan berbatu. Di sepanjang jalan berbatu ini, terdapat satu rumah penduduk yang telah dilengkapi dengan mushola. Plus yang paling saya ingat adalah sumur. Sesampai di pantai ini, saya menyempatkan ngobrol dengan ibu penjual makanan di salah satu gubuk yang buka. Ternyata ibu itu adalah pemilik rumah dengan mushola di sepanjang jalan berbatu tadi. Pertanyaan saya yang paling saya ingat saat itu adalah tentang sumur. Saya menanyakan apakah tidak asin air yang diambil dari sumur tersebut. Ibu tersebut menjawab tidak asin. Air tawar akan muncul pada kedalaman tertentu. Jika digali lebih dalam lagi akan terasa asin. Jadi ibu tersebut masih bisa mendapatkan air tawar walaupun rumahnya berjarak 200 meter dari bibir pantai. Hebat bukan.

Pantai Sepanjang

Pantai Sepanjang

Baron
Setelah dari pantai sepanjang, saya memutuskan untuk kembali ke barat karena informasi dari penduduk bahwa pantai selanjutnya masih sekitar 7 kilometer lagi dan karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saya kembali mampir ke pantai Baron. Kondisi pantai ini sama seperti Kukup yang merupakan pantai wisata lengkap dengan pasar permanen dan penjual aksesoris pantai. Selain itu, pantai ini juga dijadikan sebagai palabuhan bagi kapal nelayan seperti pantai Ngrenehan. Kondisi pasir pantai sudah tidak putih lagi seperti pantai tetangga, Kukup. Saya tidak menemukan sesuatu yang spesial di pantai ini walaupun teman saya pernah merasakan enaknya memancing dari atas bukit karang.

Pantai Baron

Pantai Baron

Depok
Setelah menyempatkan sembahyang dan istirahat di pantai Baron, saya memutuskan kembali ke parangtritis. Di sebelah barat parangtritis, terdapat pantai yang terkenal akan makanan lautnya, pantai Depok. Dari Baron, saya sampai di pantai Depok sekitar pukul setengah enam sore. Memang benar, pantai Depok ramai dikunjungi wisatawan entah dari mana asal mereka. Yang jelas saat itu adalah malam minggu. Banyak warung makan makanan laut yang buka. Saya hanya foto-foto saja tidak menikmati makanan. Setelah magrib selesai, saya pulang dan sampai kota sekitar pukul tujuh malam setelah hujan di kota berhenti.

Senja di pantai Depok

Senja di pantai Depok

Selebihnya dari ketujuh pantai tersebut, masih ada banyak pantai lagi ke arah timur dari Sepanjang seperti pantai Wediombo, pantai Sundak, pantai Krakal, dll. Ada yang tertarik berkunjung kesana?

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Seven beaches in a day (Jogja travel)”

  1. restia says:

    ini blog nya mas faizal tah??oohh…

Leave a Reply