
Situs pemandian Candi Tikus
Beberapa bulan yang lalu, saya menyempatkan untuk mengunjungi reruntuhan kerajaan Majapahit di lokasinya Trowulan, Mojokerto, Jawa timur. Ada banyak reruntuhan yang tersebar di sekitar Trowulan. Diantaranya ada candi Brahu, kolam Segaran, candi Kedaton dan sumur Upas, candi Tikus, pendopo Agung, candi Brajangratu, candi Wringinlawang dan lainnya.
Kolam Segaran
Lokasi kolam ini tidak jauh dari jalan raya. Sekitar 500 meter masuk ke arah selatan dari jalan raya. Kalau dari Surabaya, akan belok ke kiri. Tanda-tandanya adalah sebelum pasar seni dan museum trowulan lama. Dari situ sekitar 500 meter sebelah kiri jalan ada kolam yang sangat besar. Saat saya datang berkunjung, ada banyak orang yang mancing di kolam tersebut. Disekitar kolam terdapat warung yang menyajikan masakan serba ikan.

Kolam Segaran
Museum Trowulan
Di dekat kolam Segaran (tepatnya di sebelah selatan), terdapat museum trowulan. Di museum ini terdapat banyak sekali benda-benda peninggalan jaman Majapahit berupa tembikar, patung batu, porselain, prasasti, serta miniatur benda-benda jaman dahulu. Selain itu, pengunjung juga dapat membeli souvenir di toko souvenir depan museum. Di sebelah selatan museum, saat itu terdapat aktifitas penggalian. ada banyak sekali kepingan-kepingan tembikar hasil penggalian yang ditumpuk dalam tas-tas kresek. Selain itu juga terdapat hasil galian yang ditemukan seperti berupa rumah tempat tinggal lengkap dengan lantai paving, gerabah besar, dan bekas-bekas reruntuhan tembok.
Kepingan-kepingan gerabah yang pecah yang ditemukan dari lokasi penggalian
Candi Kedaton dan sumur Upas
Dari museum saya melanjutkan perjalanan terus kearah selatan sampai pada situs yang lain yaitu candi Kedaton. Candi ini berbentuk persegi panjang menyerupai panggung atau stage untuk pertunjukan. Entah bentuk dahulunya seperti apa juga tidak diketahui. Disebelah candi ini, masih terlihat aktifitas penggalian. Dari penggalian yang belum selesai tersebut (menurut penunggu candi, penggalian terhenti karena masalah dana), terlihat bentuk pemukiman penduduk yang simetris dengan sebuah sumur tepat ditengah pemukiman. Sumur tersebut dinamakan oleh penduduk tersebut sebagai sumur Upas (sumur beracun). Sumur tersebut saat ini ditutup oleh batu dan tidak ada seorangpun yang berani membukanya.
Pendopo Agung
Dari candi kedaton, saya kembali ke arah utara untuk mampir di situs yang saya lewati. Situs tersebut adalah pendopo yang diberi nama Pendopo Agung. Bangunan pendopo ini termasuk bangunan baru. Bangunan sepertinya milik militer angkatan darat. Dulunya, dilokasi pendirian pendopo ini ditemukan umpak batu (pondasi bangunan dari batu) dengan jumlah yang sangat banyak. Dari sebagian batu umpak tersebut digunakan untuk pondasi bangunan pendopo Agung. Sebagian lagi diletakkan di sebelah selatan pendopo. Selain pendopo, dibelakang lokasi pendopo terdapat makam. Saya kurang jelas makam tersebut adalah makam siapa. Penduduk menamai makam tersebut dengan nama makam panggung. saya menyempatkan diri untuk istirahat di pendopo tersebut. Sebelum masuk kawasan pendopo, pengunjung diharapkan mengisi daftar hadir pengunjung dengan sumbangan seikhlasnya. Di pendopo ini sudah tersedia fasilitas parkir (bayar) dan banyak penjual makanan didepan kawaan pendopo.
Menurut sejarah, situs ini digunakan untuk pertemuan-pertemuan raja Majapahit. Selain itu, konon sumpah palapa juga diucapkan oleh patih Gajah Mada di lokasi tersebut.
Candi Brajangratu
Dari pendopo saya menuju ke arah timur. Saya menemukan situs selanjutnya yaitu situs candi Brajangratu. Candi ini berupa pintu gerbang. Di sisi kanan dan kiri candi terdapat bekas bangunan yang terpotong. Mungkin dulunya potongan tersebut menyambung dengan tembok yang memanjang.
Candi Brajangratu
Candi Tikus
Lebih ke timur lagi dari candi Brajangratu terdapat situs candi patirtan atau pemandian yaitu candi Tikus. Candi ini terletak dibawah permukaan tanah. Dengan membangun konstruksi semacam ini, sangat masuk akal lah jika akan terdapat air yang memancar seperti pancuran karena gaya gravitasi. Kalau bangunan ini dibangun dipermukaan tanah, maka diperlukan pompa air (yang pastinya saat itu belum ada) untuk memancurkan air.
Candi Brahu
Kalau situs-situs diatas tadi letaknya di sebelah selatan jalan raya (jalan raya surabaya madiun jogja membujur dari timur ke barat), sekarang saya mengunjungi situs candi yang sangat besar di sebelah Utara. Namanya candi Brahu, nama Brahu diketahui setelah diketemukan prasasti Alasantan yang terbuat dari logam disekitar kawasan candi. disebelah timur candi terdapat galian baru yang telah diberi nama candi Gedhong. Konon candi Gedhong adalah gugusan candi disekitar candi Brahu tersebut.

Candi Brahu
Dari sekian banyak reruntuhan majapahit, hampir semua ditemukan dari hasil penggalian. Memang saya jadi berpikir macam-macam musibah apa yang membuat bangunan-bangunan itu tertimbun tanah. Apakah jaman dulu ada musibah macam lumpur lapindo?? Yang jelas, dari sekian banyak candi, candi Brahu tidak termasuk yang tertumbun tanah, karena candi ini sangat tinggi.
Sebelum pulang, saya menyempatkan mampir di maha wihara majapahit yang terkenal akan sleeping Budha-nya yang berwarna kuning emas.
Sleeping Budha di maha vihara Mahapahit

April 15th, 2010
Faizal Mahananto
Posted in 
