
Antri menunggu bus pagi hari di Jepang
Udara yang dingin saat itu memaksaku untuk selalu mengenakan jaket kulit yang telah kubawa dan menuntun tanganku untuk menutup resletingnya. Aku tahu, udara sedingin itu baru satu kali aku rasakan dimana semuanya tersedia dihadapan mata (aku pernah merasakan dingin yang sama dimana semua hanya pohon dan batu disekeliling-Gunung Lawu). Kebingunan saat itu kurasakan karena barang yang telah kubawa tak kunjung nampak. Terpaksa aku menanyakan dimana harus “claim baggage”. Dan aneh, tasku tergeletak begitu saja dilantai bersama tas-tas yang lain. Batinku ”kalau dicuri siapa yang tanggung jawab”. Sampai di jalan keluar, bahkan petugasnyapun tak mengecek dan memastikan apakah tas itu tasku atau bukan ”kalau diambil orang lain, pasti pada gak ada yang tahu nih petugas”. Ya saat itu,… aku berada di Fukuoka Internation Airport.
Dari situ, aku masih saja kebingungan meski sebenarnya aku sudah tahu betul apa yang aku harus lakukan. Untuk memastikan, aku tetap harus tanya tentang keberlanjutan kendaraan yang harus ditumpangi menuju hotel. Setelah itu, aku harus deal kembali dengan udara dingin. Keluar dari bandara berarti aku sedang berada di kawasan komunitas tanpa bahasa indonesia dan sedikit bahasa inggris.
Sebagai orang yang tergesa-gesa karena saat itu sudah malam dan bis yang menuju ke tujuanku tinggal satu saja (berdasarkan jadwal bis yang kubawa), aku harus segera menunggu bis di tempat pemberhentian bis. Memang, saat itu ada banyak orang yang sama kondisinya seperti saya, mereka juga menunggu bis. Saat itu, untuk amannya, saya bergegas berdiri di pinggir jalan raya persis dan tepat di samping tulisan pemberhentian bis International-domestik. Aku tahu,.. aku orang Indonesia. Kalau mau hidup, orang Indonesia harus bisa berebutan. Istilahnya temanpun harus dimakan kalau ingin menang. Contoh nyata bisa dilihat dari cara orang Indonesia yang selalu berebutan, entah dalam hal apapun. Di tempat yang baru itu, terus terang aku cegek. Aku harus tersipu malu yang tak penting malam itu karena ternyata aku nyelonong masuk ke antrian paling depan. Itu berarti, semua orang yang berada di pinggir jalan tadi melihatku dan berpikir ”kok bisa orang ini menyerobot ke antrian paling depan”. Batinku saat itu (setelah akhirnya aku berpindah tempat membentuk barisan dibelakang mereka) ”nunggu bis aja bisa antri orang-orang ini”. Setelah kejadian itu, aku selalu hati-hati dalam melakukan segala hal yang disitu terdapat orang banyak.

Antri Bis di Airport
Gambar diatas menggambarkan kondisiku saat itu. Tanda 1 menunjukkan tempatku berdiri pertama kali sebelum menyadari bahwa aku melangkahi antrian. Gambar 2 ini orang China nama panggilannya John (nama aslinya nama China sulit dihafal). Meski terlihat lebih cupu dariku tapi dia PhD candidate loh. Dia memiliki tujuan yang sama denganku namun beda hotel yang dituju.

Antri Menunggu Bus
Di setiap jalur penyebrangan ada tanda palang kuning untuk antri

May 10th, 2010
Faizal Mahananto
Posted in
Tags: 
